MENCINTAI DALAM KESESAKAN - KOMA's Official Website

Post Top Ad

Responsive Ads Here

MENCINTAI DALAM KESESAKAN

Share This

Anneliese Winola Nyx. Gadis cantik dengan beribu-ribu rasa sakit, kekecewaan, kegundahan, dan kesesakan di dalam hatinya. Bagaimana tidak? Kasih sayang dan cinta yang seharusnya didapatkan, semuanya sirna hanya dalam rentang waktu yang singkat. Ibu? Pergi untuk selama-lamanya akibat depresi dan rasa sakit yang diberikan oleh ayahnya. Ayah? Lebih memilih bahagia bersama keluarga barunya. Pacar dan sahabat? Tentu saja ada, namun semuanya hanya tinggal kenangan.

Semua luka ditorehkan hingga tidak ada lagi tempat untuk luka baru. Hati dan fisiknya lelah menghadapi semua perlakuan kasar yang diterima oleh orang-orang yang ia sayangi.

Mulai dari Ibunya yang meninggalkannya tanpa sepatah kata. Ayah yang selalu mengabaikan, memaki, menghina, menendang, dan memukul dirinya tanpa rasa belas kasihan. Sang kekasih yang selalu acuh dan mau agar dirinya pergi jauh dari kehidupannya, hingga Qiara, sahabat yang mungkin bisa membantu mengobati semua rasa sakit dan pilu yang di rasakan Anneliese, dengan tega merebut rasa cinta dan kasih sayang sang kekasih, Jarrel.

Kadang Anneliese berpikir bahwa untuk apa lagi ia hidup ketika semua orang yang ia sayangi tidak menginginkan kehadiran dirinya. Luka yang semakin dalam, sampai kapan ia harus bertahan? Apakah masih ada cinta untuknya? Walau hanya setitik saja, apa mesti Anneliese pergi dulu baru semua orang menyayanginya kembali? Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu?

Anneliese harus bisa mengembalikan semua rasa cinta dari orang-orang yang ia sayangi sehingga nanti, Ia bisa pergi dengan tenang, terkubur dalam rasa bahagia.

Tapi, hanya kepedihan yang selalu datang menertawakan Anneliese dan dengan tega menari di atas penderitaan yang dihadapi gadis cantik itu. Tapi sampai kapankah gadis itu menanggungnya?

Semua kisah hidup setiap orang pasti selalu ada akhir yang harus dilalui, Anneliese terlalu optimis berpikir bahwa akhir hidupnya nanti akan berakhir bahagia.

Tapi siapa tahu?

Bisa saja Tuhan memutar balikkan keadaan yang sedang dialami gadis itu Bisa saja Dewi Fortuna berpihak kepada gadis itu

Bisa saja rasa pilu, rasa sakit, dan kesesakan yang menggerogoti hatinya hilang sirna Bisa saja kekecewaan berubah menjadi kebahagiaan

Bisa saja kesesakan berubah menjadi kelegaan Bisa saja luka di hati gadis itu terobati

Bisa saja bayangan dirinya menjadi nyata

Bisa saja jalan yang berliku menjadi jalan lurus yang penuh dengan bunga

 Banyak kata ‘andaikan’ di dalam kamus Anneliese tapi semuanya terpatahkan dengan satu kata, yaitu ‘namun’. Hari ini Anneliese memutuskan untuk kembali bersekolah, setelah tidak hadir 3 hari akibat rasa sakit yang didapatkannya dari ayahnya. Ayahnya menampar dan menendang perut Anneliese, padahal baru beberapa hari lalu memar di wajahnya hilang kini kembali terlihat lagi. Hanya karena ia berniat membersihkan kamar ibunya dan tidak sengaja menemukan sebuah buku catatan usang di bawah ranjang sang ibu.

Anneliese juga bingung kenapa ayahnya sangat membencinya. Banyak pikiran buruk yang datang mengenai alasan ayahnya membenci Anneliese, tapi semuanya langsung ia tepis dari pikirannya.

“Huftt… Gue harus lupain apa yang terjadi kemarin.” batin Anneliese

Di koridor tak sengaja ia melihat pacar dan sahabatnya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Sungguh pemandangan ini membuat hatinya nyeri dan sesak. Seakan- akan ada rantai yang melilit rongga dadanya hingga ia sulit untuk bernapas.

Sakit memang ketika seseorang yang selalu ada di samping kita ternyata hanya ada untuk maksud yang lain. Dan benar, tidak ada orang yang bisa dipercaya di dunia ini. Semua bisa saja mengecewakan tanpa aba-aba.

Anneliese seketika membeku ketika matanya bertubrukan dengan mata Jarrel yang tajam. Lebih baik ia mengalihkan matanya ke objek yang lebih layak untuk dilihat daripada hanya menambah sakit hati, toh mereka tidak akan pernah pedulti dengan perasaan Anneliese.

Qiara hanya menatap sekilas Anneliese yang diam membisu. Dari dulu memang Qiara tidak tulus berteman dengan Anneliese, menurutnya gadis itu terlalu polos.

“Gue seneng liat lo menderita Ann.” ucap Qiara di dalam hatinya.

“Qiara, makasih udah buat gue sadar untuk tidak mudah percaya orang lain, lagi.” Tanpa sadar setetes air mata Anneliese jatuh. Dengan segera ia menghapus air matanya dengan kasar, ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan orang lain, apalagi orang yang sudah membuat luka di dalam hatinya.

Dirinya harus kuat. Mungkin dulu ibunya merupakan orang yang membuatnya bisa bertahan, namun saat ini tidak ada lagi orang yang membuatnya kuat menjalani hari-harinya.

Lebih baik ia segera ke kelas dan mengikuti pelajaran hingga berakhir.

Selesai pelajaran, ia bergegas merapikan alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas. Ia akan mengunjungi makam ibunya.

Ia berjalan ke arah gerbang, namun sebuah tangan menahan dan langsung menariknya menuju parkiran. Siapa lagi kalau bukan Jarrel Cleo Waldemarr.

“Ikut gue! Naik cepet!” kata Jarrel tanpa mau dibantah.


Anneliese meringis sambil berkata, “Rel, pelan-pelan ih! Sakit tau ga?! Lepas! Lepasin Jarrel!!”

Jarrel melepas cekalan tangannya, lalu memakaikan helm kepada Anneliese. Jarrel sadar ia sudah keterlaluan kepada gadisnya. Ia hanya tidak ingin Anneliese pergi sendirian lagi. Jarrel menatap mata indah gadisnya, mata yang dulu perlahan membuat hatinya jatuh cinta tanpa tahu konsekuensi yang didapatkannya membuatnya sakit hati bahkan terkadang membuat fisiknya juga sakit.

Selama ini sikap Jarrel berubah bukan karena ia tidak mencintai gadisnya lagi, namun karena perintah dari Sam, ayah Anneliese.

Sam menyuruhnya menjauhi Anneliese

Sam memaksanya untuk menyakiti Anneliese

Sam menyuruhnya untuk berbuat kasar kepada Anneliese

Sam menginginkan Anneliese lebih tersiksa lagi dengan perlakuan dari Jarrel.

Sam memaksa Jarrel melakukan semuanya itu. Jika Jarrel tidak melakukannya, maka bisnis yang dibangun oleh orangtuanya akan lenyap.

Dia mencintai keluarga dan juga gadisnya, Anneliese.

Jarrel mungkin akan diam diperlakukan seperti itu oleh Sam, namun Jarrel tidak akan pernah diam jika Sam menyentuh gadisnya. Sam sudah berjanji tidak akan menyentuh, memukul, menendang, dan memaki gadisnya lagi jika ia mau mengikuti apa yang dikatakan oleh Sam. Dan Jarrel sudah melakukan sesuai dengan keinginan pria tua itu.

Tapi yang ia lihat di wajah gadisnya saat ini ialah sebuah bekas tamparan, sedikit membiru di bagian bawah mata. Juga sudut bibir gadisnya sedikit luka. Jarrel tidak bodoh untuk tidak mengetahui apa yang terjadi dengan gadisnya. Pria tua itu pasti menampar gadisnya, ya pasti pria itu melakukannya.

Tangan Jarrel naik membelai lembut pipi Anneliese. Sungguh ia rindu dengan gadisnya, sangat rindu.

“Mau kemana hm?” Jarrel bertanya dengan nada lembut.

Anneliese bingung apakah ini mimpi atau bukan tetapi Jarrel berbicara dengan nada lembut seperti dulu, “Mau ke makam ibu. Gue rindu.”

Entah kata rindu itu untuk ibunya ataukah untuk Jarrel. Tapi hatinya berkata bahwa kata itu untuk dia, orang yang ada di hadapannya saat ini.

“Gue lebih rindu, sayang” batin Jarrel.

Ya, Jarrel hanya bisa membatin menyebutkan kalimat tersebut. Lebih baik sekarang ia mengantarkan gadisnya ke makam ibunya. Di makam sang ibu, Anneliese diam membisu. Otaknya memutar semua kenangan yang dulu pernah ia lalui bersama ibunya. Ternyata sungguh indah waktu yang telah dihabiskan bersama orang yang ia sayangi.


Perlahan namun pasti Anneliese menangis. Meratapi semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Dia benar-benar lelah. Tak menyangka dunia sekejam ini kepada dirinya.

“Ibu, aku capek Bu. Aku mau sama Ibu aja ya Bu…” tangisan pilu terdengar di telinga Jarrel yang juga ikut melihat dan mendengar apa yang dikatakan Anneliese.

“Bu, tunggu aku ya tunggu aku, aku pasti secepatnya akan nyusul kok. Aku kan ga punya siapa-siapa lagi disini. Aku cuman mau hidup aku diterima orang lain. Aku cuman mau mereka sayang sama aku…Hiks…” ucap Anneliese sambil memeluk batu nisan sang ibu.

Hatinya sakit dan hancur, bahkan mungkin tidak bisa diobati lagi.

“Ayah benar-benar berubah Bu, Ayah selalu memukul Anneliese, Ayah selalu memaki Anneliese… Aku…hiks… Aku ga kuat Bu, ga kuat… Kemarin Ayah nendang perut aku, aku ga tau kenapa Ayah selalu mukul aku Bu, kenapa? Kenapa?” sambung Anneliese dengan suara seraknya.

“Aku ini anak kandung Ayah atau bukan?” Anneliese kembali menangis tersedu-sedu. Tangan kanannya di letakkan di dada kirinya, meremas seragam yang dikenakannya.

Sungguh, ia benar benar terluka.

Jarrel sadar jika gadisnya sudah banyak terluka oleh karena sikap ayahnya dan bahkan karena dirinya yang selalu mengacuhkan Anneliese. Ia menghapus air mata yang menetes dari matanya. Ia berjalan mendekati Anneliese dan berjongkok di sampingnya. Merangkul Anneliese dan membisikkan sebuah kalimat.

“Sssttt.. udah ya. Jangan nangis lagi. Ada gue yang akan selalu di samping lo. Udah jangan nangis.” Jarrel mengusap air mata di pipi gadisnya. Memberikan pelukan kepada gadisnya yang lemah.

Tapi Anneliese langsung menjaga jarak darinya. Anneliese menatap Jarrel sambil tersenyum miring. “Apa? Lo barusan ngomong apa?” Tanya Anneliese.

Saat akan berbicara, Anneliese langsung memotong ucapan Jarrel, “Akan selalu di samping gue? Jangan nangis? Lagi? Hah!” Anneliese menghela napas panjang lalu melanjutkan perkataannya, “Lo bahkan salah satunya yang selalu buat gue nangis tiap malem! Lo juga yang udah buat gue selalu ingin hilang dari dunia ini tau ga?! Lo yang gue pikir akan ngobatin semua rasa sakit di hati gue, tapi apa?! APA?!” Anneliese berkata dengan nada tinggi.

Air matanya turun lebih deras. Ia hancur. Ia sakit. Ia kecewa.

“Sikap lo yang selalu berubah-ubah. Kadang lo kasar Rel, kasar! Lo acuhkan gue! Lo pergi bareng sahabat gue! Gue sayang sama lo, gue cinta Jarrel! Tapi kenapa lo selalu buat gue jatuh hah?” ucapan Anneliese semakin memelan seiring air matanya yang jatuh.

“Ann, maaf. Please maafin gue. Gue… gue ngelakuin semuanya karena…karena-” ucap Jarrel terbata-bata. Ia tidak yakin bisa memberi tahu Anneliese apa yang sebenarnya terjadi.


Ia juga merasa sakit hati karena tidak bisa melindungi Anneliese secara langsung. Ia memang berengsek.

Anneliese langsung lari meninggalkannya. Gadis itu menangis sambil berlari menuju jalan raya. Sudah cukup semua rasa sakit yang ia dapatkan. Sudah cukup.

TIIINN TIIINN TIIIIIIIN… BRAAAKKK!!

Tubuh Anneliese terpental jauh setelah sebuah truk menabraknya. Darah mengucur dari kepala, hidung, dan telinga gadis itu. Rasa sesak menghampiri Anneliese, “Sshh, sa-k-iittt” Anneliese tak mampu berkata lagi, ia merasa tubuhnya benar-benar remuk.

Jarrel yang melihat kejadian itu merasa sesak. Ia berlari menghampiri gadisnya, gadis yang amat ia sayangi. Jarrel lalu menangkup wajah gadisnya, menangisi gadisnya yang tidak berdaya.

“Sayang, sayang bertahan ya sayang. Jangan ninggalin aku sayang. Sayang tahan” ucap Jarel berusaha menenangkan Anneliese. Bahkan dirinya tidak sendiri saja bergetar. Ia langsung segera menelepon ambulans untuk segera datang.

Anneliese tersenyum manis dan berkata, “Ini-kann...yangh ka-m-u ma-uu.. Ak-akh aku.. ak-u pper-gii, Ja-rre-lh Clee-o Wall-de-marr.” Perlahan mata gadis itu tertutup. Dan ia benar-benar pergi. Anneliese pergi tanpa tau kenapa dia mengalami semua rasa sakit ini.

Ternyata ini akhir hidup dari gadis bernama Anneliese Winola Nyx. Usai sudah semua kesesakan yang ia rasakan. Sekarang ia pergi, meskipun membawa kesesakan. Tapi tidak apa-apa. Di alam sana, ia akan bertemu dengan seseorang yang menyayanginya dan mencintainya dengan tulus.

Jarrel menyesal kenapa dia dengan bodohnya mengikuti semua perintah Sam, ayah Anneliese. Seharusnya ia menolak dengan tegas dan berani melindungi Anneliese secara terang-terangan. Dia berengsek. Dia payah. Dia gagal menjaga gadis yang dicintainya.

Sekarang Jarrel mungkin akan hidup di dalam penyesalan. Penyesalan karena memilih keputusan yang salah. Penyesalan karena telah menyia-nyiakan orang yang ia cintai. Penyesalan karena tidak bisa mengungkapkan rasa cinta dan rasa sayangnya. Penyesalan karena sudah membuat gadisnya sakit dan jatuh terlalu dalam. Penyesalan karena selalu membuat gadisnya menangis.

“I love you, Anneliese Winola Nyx” Jarrel membatin.


(anastasyaaaa_p)

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages