Anneliese Winola Nyx. Gadis cantik dengan beribu-ribu rasa sakit, kekecewaan, kegundahan, dan kesesakan di dalam hatinya. Bagaimana tidak? Kasih sayang dan cinta yang seharusnya didapatkan, semuanya sirna hanya dalam rentang waktu yang singkat. Ibu? Pergi untuk selama-lamanya akibat depresi dan rasa sakit yang diberikan oleh ayahnya. Ayah? Lebih memilih bahagia bersama keluarga barunya. Pacar dan sahabat? Tentu saja ada, namun semuanya hanya tinggal kenangan.
Semua luka ditorehkan hingga tidak ada lagi tempat untuk luka baru. Hati dan fisiknya lelah menghadapi semua perlakuan kasar yang diterima oleh orang-orang yang ia sayangi.
Mulai dari Ibunya yang meninggalkannya tanpa sepatah kata. Ayah yang selalu mengabaikan, memaki, menghina, menendang, dan memukul dirinya tanpa rasa belas kasihan. Sang kekasih yang selalu acuh dan mau agar dirinya pergi jauh dari kehidupannya, hingga Qiara, sahabat yang mungkin bisa membantu mengobati semua rasa sakit dan pilu yang di rasakan Anneliese, dengan tega merebut rasa cinta dan kasih sayang sang kekasih, Jarrel.
Kadang Anneliese berpikir bahwa untuk apa lagi ia hidup ketika semua orang yang ia sayangi tidak menginginkan kehadiran dirinya. Luka yang semakin dalam, sampai kapan ia harus bertahan? Apakah masih ada cinta untuknya? Walau hanya setitik saja, apa mesti Anneliese pergi dulu baru semua orang menyayanginya kembali? Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu?
Anneliese harus bisa mengembalikan semua rasa cinta dari orang-orang yang ia sayangi sehingga nanti, Ia bisa pergi dengan tenang, terkubur dalam rasa bahagia.
Tapi, hanya kepedihan yang selalu datang menertawakan Anneliese dan dengan tega menari di atas penderitaan yang dihadapi gadis cantik itu. Tapi sampai kapankah gadis itu menanggungnya?
Semua kisah hidup setiap orang pasti selalu ada akhir yang harus dilalui, Anneliese terlalu optimis berpikir bahwa akhir hidupnya nanti akan berakhir bahagia.
Tapi siapa tahu?
Bisa saja Tuhan memutar balikkan
keadaan yang sedang dialami gadis itu Bisa saja Dewi Fortuna berpihak kepada
gadis itu
Bisa saja rasa pilu, rasa sakit,
dan kesesakan yang menggerogoti hatinya hilang sirna Bisa saja kekecewaan
berubah menjadi kebahagiaan
Bisa saja kesesakan berubah menjadi
kelegaan Bisa saja luka di hati gadis itu terobati
Bisa saja bayangan dirinya menjadi nyata
Bisa saja jalan yang berliku menjadi jalan lurus yang penuh dengan bunga
Anneliese juga bingung kenapa ayahnya sangat membencinya. Banyak pikiran buruk yang datang mengenai alasan ayahnya membenci Anneliese, tapi semuanya langsung ia tepis dari pikirannya.
“Huftt… Gue harus lupain apa yang terjadi kemarin.” batin Anneliese
Di koridor tak sengaja ia melihat pacar dan sahabatnya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Sungguh pemandangan ini membuat hatinya nyeri dan sesak. Seakan- akan ada rantai yang melilit rongga dadanya hingga ia sulit untuk bernapas.
Sakit memang ketika seseorang yang selalu ada di samping kita ternyata hanya ada untuk maksud yang lain. Dan benar, tidak ada orang yang bisa dipercaya di dunia ini. Semua bisa saja mengecewakan tanpa aba-aba.
Anneliese
seketika membeku ketika matanya bertubrukan dengan mata Jarrel yang tajam.
Lebih baik ia mengalihkan matanya ke objek yang lebih layak untuk dilihat daripada hanya menambah sakit hati, toh mereka
tidak akan pernah pedulti dengan perasaan Anneliese.
Qiara
hanya menatap sekilas Anneliese yang diam membisu. Dari dulu memang Qiara tidak
tulus berteman dengan Anneliese, menurutnya gadis itu terlalu polos.
“Gue
seneng liat lo menderita Ann.” ucap Qiara di dalam hatinya.
“Qiara, makasih udah buat gue sadar
untuk tidak mudah percaya orang lain, lagi.” Tanpa sadar
setetes air mata Anneliese jatuh. Dengan segera ia menghapus air matanya dengan
kasar, ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan orang lain, apalagi orang yang
sudah membuat luka di dalam hatinya.
Dirinya
harus kuat. Mungkin dulu ibunya merupakan orang yang membuatnya bisa bertahan,
namun saat ini tidak ada lagi orang yang membuatnya kuat menjalani hari-harinya.
Lebih baik ia
segera ke kelas dan mengikuti pelajaran hingga berakhir.
Selesai
pelajaran, ia bergegas merapikan alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas. Ia
akan mengunjungi makam ibunya.
Ia
berjalan ke arah gerbang, namun sebuah tangan menahan dan langsung menariknya
menuju parkiran. Siapa lagi kalau bukan Jarrel Cleo Waldemarr.
“Ikut gue! Naik
cepet!” kata Jarrel tanpa mau dibantah.
Anneliese
meringis sambil berkata, “Rel, pelan-pelan ih! Sakit tau ga?! Lepas! Lepasin
Jarrel!!”
Jarrel
melepas cekalan tangannya, lalu memakaikan helm kepada Anneliese. Jarrel sadar
ia sudah keterlaluan kepada gadisnya. Ia hanya tidak ingin Anneliese pergi
sendirian lagi. Jarrel menatap mata indah gadisnya, mata yang dulu perlahan
membuat hatinya jatuh cinta tanpa tahu konsekuensi yang didapatkannya
membuatnya sakit hati bahkan terkadang membuat fisiknya juga sakit.
Selama
ini sikap Jarrel berubah bukan karena ia tidak mencintai gadisnya lagi, namun
karena perintah dari Sam, ayah Anneliese.
Sam menyuruhnya
menjauhi Anneliese
Sam memaksanya
untuk menyakiti Anneliese
Sam menyuruhnya
untuk berbuat kasar kepada Anneliese
Sam menginginkan
Anneliese lebih tersiksa lagi dengan perlakuan dari Jarrel.
Sam
memaksa Jarrel melakukan semuanya itu. Jika Jarrel tidak melakukannya, maka
bisnis yang dibangun oleh orangtuanya akan lenyap.
Dia mencintai
keluarga dan juga gadisnya, Anneliese.
Jarrel
mungkin akan diam diperlakukan seperti itu oleh Sam, namun Jarrel tidak akan
pernah diam jika Sam menyentuh gadisnya. Sam sudah berjanji tidak akan
menyentuh, memukul, menendang, dan memaki gadisnya lagi jika ia mau mengikuti
apa yang dikatakan oleh Sam. Dan Jarrel sudah melakukan sesuai dengan keinginan
pria tua itu.
Tapi
yang ia lihat di wajah gadisnya saat ini ialah sebuah bekas tamparan, sedikit
membiru di bagian bawah mata. Juga sudut bibir gadisnya sedikit luka. Jarrel
tidak bodoh untuk tidak mengetahui apa yang terjadi dengan gadisnya. Pria tua
itu pasti menampar gadisnya, ya pasti pria itu melakukannya.
Tangan
Jarrel naik membelai lembut pipi Anneliese. Sungguh ia rindu dengan gadisnya,
sangat rindu.
“Mau kemana hm?”
Jarrel bertanya dengan nada lembut.
Anneliese
bingung apakah ini mimpi atau bukan tetapi Jarrel berbicara dengan nada lembut seperti
dulu, “Mau ke makam ibu. Gue rindu.”
Entah
kata rindu itu untuk ibunya ataukah untuk Jarrel. Tapi hatinya berkata bahwa
kata itu untuk dia, orang yang ada di hadapannya saat ini.
“Gue
lebih rindu, sayang” batin Jarrel.
Ya,
Jarrel hanya bisa membatin menyebutkan kalimat tersebut. Lebih baik sekarang ia
mengantarkan gadisnya ke makam ibunya. Di makam sang ibu, Anneliese diam
membisu. Otaknya memutar semua kenangan yang dulu pernah ia lalui bersama
ibunya. Ternyata sungguh indah waktu yang telah dihabiskan bersama orang yang
ia sayangi.
Perlahan
namun pasti Anneliese menangis. Meratapi semua hal yang terjadi dalam hidupnya.
Dia benar-benar lelah. Tak menyangka dunia sekejam ini kepada dirinya.
“Ibu,
aku capek Bu. Aku mau sama Ibu aja ya Bu…” tangisan pilu terdengar di telinga
Jarrel yang juga ikut melihat dan mendengar apa yang dikatakan Anneliese.
“Bu,
tunggu aku ya tunggu aku, aku pasti secepatnya akan nyusul kok. Aku kan ga
punya siapa-siapa lagi disini. Aku cuman mau hidup aku diterima orang lain. Aku
cuman mau mereka sayang sama aku…Hiks…” ucap Anneliese sambil memeluk batu
nisan sang ibu.
Hatinya sakit dan
hancur, bahkan mungkin tidak bisa diobati lagi.
“Ayah
benar-benar berubah Bu, Ayah selalu memukul Anneliese, Ayah selalu memaki Anneliese…
Aku…hiks… Aku ga kuat Bu, ga kuat… Kemarin Ayah nendang perut aku, aku ga tau
kenapa Ayah selalu mukul aku Bu, kenapa? Kenapa?” sambung Anneliese dengan
suara seraknya.
“Aku
ini anak kandung Ayah atau bukan?” Anneliese kembali menangis tersedu-sedu.
Tangan kanannya di letakkan di dada kirinya, meremas seragam yang dikenakannya.
Sungguh, ia benar
benar terluka.
Jarrel
sadar jika gadisnya sudah banyak terluka oleh karena sikap ayahnya dan bahkan
karena dirinya yang selalu mengacuhkan Anneliese. Ia menghapus air mata yang
menetes dari matanya. Ia berjalan mendekati Anneliese dan berjongkok di
sampingnya. Merangkul Anneliese dan membisikkan sebuah kalimat.
“Sssttt..
udah ya. Jangan nangis lagi. Ada gue yang akan selalu di samping lo. Udah
jangan nangis.” Jarrel mengusap air mata di pipi gadisnya. Memberikan pelukan
kepada gadisnya yang lemah.
Tapi
Anneliese langsung menjaga jarak darinya. Anneliese menatap Jarrel sambil
tersenyum miring. “Apa? Lo barusan ngomong apa?” Tanya Anneliese.
Saat
akan berbicara, Anneliese langsung memotong ucapan Jarrel, “Akan selalu di
samping gue? Jangan nangis? Lagi? Hah!” Anneliese menghela napas panjang lalu
melanjutkan perkataannya, “Lo bahkan salah satunya yang selalu buat gue nangis
tiap malem! Lo juga yang udah buat gue selalu ingin hilang dari dunia ini tau
ga?! Lo yang gue pikir akan ngobatin semua rasa sakit di hati gue, tapi apa?!
APA?!” Anneliese berkata dengan nada tinggi.
Air matanya turun
lebih deras. Ia hancur. Ia sakit. Ia kecewa.
“Sikap
lo yang selalu berubah-ubah. Kadang lo kasar Rel, kasar! Lo acuhkan gue! Lo
pergi bareng sahabat gue! Gue sayang sama lo, gue cinta Jarrel! Tapi kenapa lo
selalu buat gue jatuh hah?” ucapan Anneliese semakin memelan seiring air
matanya yang jatuh.
“Ann,
maaf. Please maafin gue. Gue… gue ngelakuin semuanya karena…karena-” ucap
Jarrel terbata-bata. Ia tidak yakin bisa memberi tahu Anneliese apa yang
sebenarnya terjadi.
Ia
juga merasa sakit hati karena tidak bisa melindungi Anneliese secara langsung.
Ia memang berengsek.
Anneliese
langsung lari meninggalkannya. Gadis itu menangis sambil berlari menuju jalan
raya. Sudah cukup semua rasa sakit yang ia dapatkan. Sudah cukup.
TIIINN TIIINN TIIIIIIIN…
BRAAAKKK!!
Tubuh
Anneliese terpental jauh setelah sebuah truk menabraknya. Darah mengucur dari
kepala, hidung, dan telinga gadis itu. Rasa sesak menghampiri Anneliese, “Sshh,
sa-k-iittt” Anneliese tak mampu berkata lagi, ia merasa tubuhnya benar-benar
remuk.
Jarrel
yang melihat kejadian itu merasa sesak. Ia berlari menghampiri gadisnya, gadis
yang amat ia sayangi. Jarrel lalu menangkup wajah gadisnya, menangisi gadisnya
yang tidak berdaya.
“Sayang,
sayang bertahan ya sayang. Jangan ninggalin aku sayang. Sayang tahan” ucap
Jarel berusaha menenangkan Anneliese. Bahkan dirinya tidak sendiri saja
bergetar. Ia langsung segera menelepon ambulans untuk segera datang.
Anneliese tersenyum manis dan berkata, “Ini-kann...yangh
ka-m-u ma-uu.. Ak-akh aku.. ak-u pper-gii, Ja-rre-lh Clee-o Wall-de-marr.”
Perlahan mata gadis itu tertutup. Dan ia benar-benar pergi. Anneliese pergi tanpa
tau kenapa dia mengalami semua rasa sakit ini.
Ternyata
ini akhir hidup dari gadis bernama Anneliese Winola Nyx. Usai sudah semua
kesesakan yang ia rasakan. Sekarang ia pergi,
meskipun membawa kesesakan. Tapi tidak apa-apa. Di alam sana, ia akan bertemu
dengan seseorang yang menyayanginya dan mencintainya dengan tulus.
Jarrel
menyesal kenapa dia dengan bodohnya mengikuti semua perintah Sam, ayah
Anneliese. Seharusnya ia menolak dengan tegas dan berani melindungi Anneliese
secara terang-terangan. Dia berengsek. Dia payah. Dia gagal menjaga gadis yang
dicintainya.
Sekarang Jarrel mungkin akan hidup di dalam penyesalan. Penyesalan
karena memilih keputusan yang salah. Penyesalan karena telah menyia-nyiakan
orang yang ia cintai. Penyesalan karena tidak bisa mengungkapkan rasa cinta dan
rasa sayangnya. Penyesalan karena sudah membuat gadisnya sakit dan jatuh
terlalu dalam. Penyesalan karena selalu membuat gadisnya menangis.
“I love you, Anneliese Winola Nyx” Jarrel membatin.
(anastasyaaaa_p)
No comments:
Post a Comment