A Series Of Coincidences - KOMA's Official Website

Post Top Ad

Responsive Ads Here

A Series Of Coincidences

Share This

 

A Series Of Coincidences

Written by: Shasha

            “Hidup adalah serangkaian kebetulan” kutipan Fiersa Besari di Buku Garis Waktu itu tiba-tiba saja terlintas dalam fikiranku, kebetulan aku bertemu dengan Kak Gian saat aku yang  pernah satu bidang lomba dengannya, mungkin Kak Gian juga tidak akan sadar sih, karena dulu aku baru masih SMA dan dia sudah masuk kuliah tingkat satu kala itu atau mungkin saat rumahku berada searah dengan rumahnya. Ada juga kebetulan-kebetulan lain yang sebelumnya pernah aku alami saat bertemu Kak Gian, entah itu di ruang piket karena aku yang terlambat datang di hari pertamaku menginjakkan kaki di kampus, yang awalnya tidak aku inginkan, saat kebetulan aku berpapasan dengan Kak Gian di lorong kampus, atau juga kebetulan bertemu Kak Gian di fotokopian depan kampus tatkala aku menunggu jemputan Bang Al. 

 

            Di tempat yang hampir tidak bisa dibayangkan atau bahkan tempat se-random seperti toko kue yang sering di datangi Bang Al saat mengantar aku pulang ini pun aku masih bertemu dengan Kak Gian yang tiba-tiba muncul menanyakan status kursi di sebelahnya. Aku hanya bisa berdiam diri sambil memeluk helm Bang Al yang dititipkan padanya. Entah sejak kejadian kebetulan keberapa ia mulai merasakan hal aneh saat bertemu dengan Kak Gian. Termasuk saat ini, lelaki ber-hoodie hitam itu sibuk bermain ponsel disebelahnya dan aku tidak berani untuk menyapanya lebih lanjut walaupun ia terbiasa menyapa kakak kelas yang ia kenal.

 

            Tapi mungkin dewi Fortuna sedang berpihak padaku, akhirnya pintu toko itu pun terbuka menunjukkan seseorang yang sedari tadi aku tunggu, ia keluar dengan kotak berisi kue. Baru kali ini aku merasa beruntung saat melihat wajah Abangku. Setidaknya aku tidak perlu berkutat dengan fikiran yang gelisah apakah ia harus menyapa Kak Gian ataukah tidak.

            “Yuk, pulang. Siniin helm abang.”

            “Cie, tumbenan kue buat siapa, tuh? Aku menggoda abangku yang cuek itu karena tiba-tiba saja mampir ke toko kue untuk membeli sesuatu yang tidak biasa dibelinya, bahkan saat ulang tahun bunda dan aku sekalipun.

            “Ada, lah. Buruan abang mau ada acara.” Abangku mengalihkan pembicaraan itu dan berjalan menuju motornya. Aku hanya bisa mengerucutkan bibirku dan berjalan dengan menuju motor abangnya.

 

            Diperjalanan, ada dua hal yang memenuhi kepalanya. Satu, mengapa Bang Al bisa-bisanya membeli kue yang aku jamin pastinya bukan untuk dirinya, aku ataupun bunda. Dua, mengapa aku bisa bertemu Kak Gian di tempat se-random itu.

 

            Pertanyaan pertama mungkin aku rasa wajar saja terlintas di benakku karena memang Bang Al secuek itu. Aku dan Bang Al tidak pernah terlibat obrolan serius yang bisa mengubah anggapan ku terhadap Bang Al menjadi seorang abang yang baik; yang bisa aku jadikan teman cerita dan saling menguatkan satu sama lain walaupun lewat gurauan-gurauan. Aku selalu mengherankan pemikiran teman-temannya yang beranggapan bahwa mempunyai kakak lelaki itu ‘enak’. Namun, melihat sikap abangku yang tidak pernah aku ketahui membuat aku bertanya pada diri sendri, apakah hubunganku dengan Bang Al-lah yang salah? Oh iya, aku sampai lupa Bang Al bukan kakak kandungku, karena aku adalah anak perempuan pertama di keluarga ku, aku memiliki satu orang adik yang masih kecil, dan Bang Al adalah anak tanteku tapi memang kedekatan aku dengan Bang Al sudah mirip Abang-Adek beneran, makanya terkadang orang yang baru mengenal kami pasti berkata “Kalian adik-kakak ya?” padahal nyatanya tidak. Tapi dari itu semua aku bangga kok punya Bang Al.

 

            Pikiran-pikiran yang aku bayangkan tadi tampaknya menguap saat aku tiba di rumah. Rasa lelah seakan memusnahkan mereka dari pikirannya. Namun beberapa jam setelahnya aku terpikirkan lagi soal Kak Gian, tentang bagiaman kebetulan-kebetulan yang menyertai pertemuannya dengan Kak Gian. Kebetulan-kebetulan yang seakan terus berkaitan mengendalikan perasaan ku yang semakin aneh saat aku bertemu dengan Kak Gian.

 

            Suara notifikasi dari ponselku yang terletak di meja belajar membangunkan ku dari pikiranku. Pemberitahuan dari seseorang yang baru saja mengikutinya di Instagram. Kebetulan-kebetulan itu rasanya hanya sebatas ‘kebetulan’ sampai ia melihat nama pengguna @.gianmahendra di notifikasinya. Kebetulan apa lagi yang membawa ku sampai sejauh ini?

 

            Jika hidup adalah serangkaian kebetulan, apakah kebetulan-kebetulan ini akan menjadi bagian dari cerita hidupnya, atau memang hanya serangkaian kejadian acak yang tak berkaitan? Jika hidupnya ini adalah serangkaian kebetulan yang bisa ia kendalikan, sungguh ia ingin mengenal Kak Gian lebih dalam lagi.

 

***

 

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages