“CURUG LAYUNG”
Karya: KOMA
Ujian akhir semester baru saja selesai dilaksanakan saat tiba-tiba temanku menelepon. Katanya, ia ingin mengajakku pergi camping di daerah Curug Layung Lembang. Kupikir, itu ide yang cukup bagus untuk mengobati rasa pusing dan lelah setelah ujian. Meskipun sangat mendadak, akhirnya aku memutuskan untuk ikut dan berkumpul dengan teman-teman pada jam 8 malam.
Sebagai persiapan, kami membeli jagung mentah di pasar sebelum berangkat. Kami terbagi menjadi dua tim, yang membeli jagung dan yang menunggu di parkiran. Belum sampai 5 menit aku dan 2 temanku berdiri di parkiran, seorang nenek tua mendadak muncul entah dari mana. Kedua matanya hampir melotot, terlihat agak marah. Tentu saja aku dan teman-temanku langsung heran setengah mati. Si nenek ini kenapa, sih?
“Garam dan abu bakar, bawa?” tanyanya tiba-tiba.
“Enggak.” Jawabku sambil masih terheran-heran.
“Bahaya ih, takut ada siluman.” Atanya lagi dengan logat Sunda yang kental.
Belum sempat menjawab, teman-temanku yang tadi membeli jagung pun kembali. Mereka langsung mengajakku pergi, dan aku hanya bisa menurut sembari menatap si nenek yang mamasang muka serius. Ah, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Akhirnya, kami pun berangkat ke tempat tujuan dan sampai pukul 22:30 malam. Kegiatanku bersama teman-teman membuatku lupa pada ucapan si nenek tadi.
Setelah menempuh perjalanan dan berhubung hari makin malam, aku pun memutuskan untuk tidur duluan. Tapi sebelum mataku sempat terpejam, aku melihat ada bayangan hitam yang berlalu lalang di atas tenda. Aku takut, tapi hanya bisa berusaha memejamkan mata supaya bisa cepat tidur.
2 jam kemudian, tepatnya jam 2 pagi, aku mendengar teman-temanku masih mengobrol di luar tenda. Entah mimpi atau bukan, aku yang masih belum sepenuhnya sadar tiba-tiba melihat bayangan hitam berbentuk setengah ular setengah manusia di belakang tenda. Bayangan itu hanya diam, namun terlihat jelas dan membuatku langsung merinding. Tak ingin merusak suasana, aku pun keluar dari tenda dan ikut mengobrol dengan teman-teman yang lain. Meski tanganku agak gemetar dan masih bingung, aku hanya bisa berusaha melupakan apa yang kulihat barusan. Kalau kubilang pada mereka, bisa-bisa mereka ketakutan dan mengajak pulang saat itu juga.
Jam 4 pagi, kami pun tidur. Dinginnya angin subuh menerpa kulit wajah, membuat kami semua tak bisa tidur nyenyak hingga terbangun setengah jam kemudian. Kami bersiap melaksanakan sholat subuh, dan aku pun ditunjuk sebagai imam. Sejak rokaat pertama, aku merasa ada hawa aneh yang mengelilingi kami. Meski aku sempat berpikir kalau itu hanya efek dinginnya angin saja, tetap saja hatiku merasa takut, seolah akan ada yang datang. Di penghujung rokaat kedua, aku dan teman-temanku baru saja bangkit dari sujud ketika sosok siluman setengah ular setengah manusia yang kulihat tadi malam muncul tepat di hadapanku. Teman-teman yang ‘ngeuh’ dengan kehadiran makhluk itu langsung terlonjak kaget.
“Astaghfirullah.. astaghfirullah..”
Anehnya, aku tak bisa beranjak dari posisiku. Bacaan sholat yang kurapalkan juga sudah berhenti, berganti dengan rasa takut yang menjalar luar biasa. Walau teman-temanku terdengar sedang ribut menyuruhku kabur, sosok dengan kedua mata hitam yang melotot di hadapanku membuatku sulit menggerakkan tubuh. Akhirnya, aku pun limbung dan terbangun di siang harinya. Entah sejak kapan aku ada di rumah, dan entah sejak kapan banyak orang yang mengelilingiku.
“Banyakin istighfar, cep.” Kata ibuku begitu aku membuka mata.
Ia kemudian bercerita kalau aku dan teman-temanku telah diikuti oleh siluman penguasa Curug Layung karena kami berlaku tidak sopan. Tidak permisi atau izin dulu saat membangun tenda dan terlalu berisik malam-malam hingga membuat mereka marah. Ibuku juga bercerita kalau saat ini salah satu temanku sedang diobati karena kesurupan sampai matanya menghitam, mirip si siluman tadi.
Mungkin akibat kejadian tersebut aku agak trauma begitu mendengar nama ‘Curug Layung’.
Cr: Didin Rizky.

No comments:
Post a Comment