RUMAH ANGKER - KOMA's Official Website

Post Top Ad

Responsive Ads Here

RUMAH ANGKER

Share This

                                                                     Sumber : liputan6.com

Namaku Alia, aku bersekolah di salah satu sma di Semarang. Sewaktu pulang dari sekolah aku melewati sebuah rumah yang besar dan sudah lama tak di tempati, langkahku terhenti di depan rumah tersebut. Entah kenapa hawa udaranya mulai berubah menjadi menyeramkan, aku pun lari dengan tergesa –gesa. Sesampainya di rumah, akupun menceritakan kejadian tadi kepada Rian–kakak laki – lakiku, yang seolah - olah tidak mempercayai dengan semua cerita yang aku ceritakan padanya, ia hanya tertawa meledek sebagai respon dari ceritaku. Aku pun penasaran dengan rumah tersebut dan memutuskan untuk mengajak beberapa temanku untuk mencari tahu tentang rumah tersebut

Keesokan harinya aku mengajak Nisa, Arman, Irfan, dan Laras untuk melihat rumah tersebut kembali. Sepulang sekolah kami ber-lima mengunjungi rumah tersebut. Ternyata benar hawa dari rumah tersebut meyeramkan. Kami pun menanyakan kepada warga sekitar untuk mencari tau asal usul rumah tersebut. Seorang nenek tua yang kerap disapa Ros menceritakan rumah tersebut, “rumah itu dulunya dihuni oleh sekeluarga orang kaya raya yang sangat sombong dan kerap merendahkan warga sekitar, di suatu malam rumah itu dirampok oleh sekawanan orang tak dikenal kemudian keluarga tersebut dibunuh oleh mereka. Arwah mereka masih gentayangan menghuni rumah tersebut, kadang terdengar suara orang meminta tolong dan ada yang melihat sesosok anak kecil berlarian di sekitar halaman rumah itu.” Jelas si nenek.

Kami pun berterimakasih kepada nenek tersebut dan segera meninggalkan daerah situ. Di tengah perjalanan kami pun masih penasaran dengan rumah tersebut

“Tunggu, bagaimana kalau kita coba untuk memasuki rumah itu?” Tanya Irfan kepada kami semua.

“H-hah… apa kamu tidak takut dengan rumah itu?” Sambung Laras.

“Tentu saja tidak,” jawab Irfan penuh keyakinan.

“Mending kita pulang saja, yuk? Hari sudah hampir gelap.” Ujar Nisa

“Benar tuh apa yang nisa katakan,” timpal Ali.

Tiba – tiba Arman berkata, “tenang saja masih ada kita berdua yang akan melindungi kalian.”

“Tapi…” aku mencoba untuk menolaknya.

“Udah tenang aja, dari pada kita penasaran dengan rumah tersebut mending kita mencari tau saja.” Ucap Arman dengan lembut meyakinkanku untuk menyetujui.

“Iya, deh kita ikut, tapi kalau ada apa – apa ini semua salah kamu ya.” Aku membalas dengan ragu.

“Yaudah nanti malam kita berkumpul di sekitar sini.” Ucap Arman final.

Saat malam hari, merekapun berkumpul

Aku melirik arlojiku, “Nisa lama banget, jam segini dia belum datang.”

“Mungkin dia takut,” kata Arman.

“Mungkin saja dia tidak diberi izin oleh orang tuanya untuk pergi di tengah malam begini.” Ucap Laras

“Umm.. bisa jadi,” balasku.

“Apa kita tinggalin aja si Nisa?” Tanya Irfan menatap kami semua.

“Jangan, kita tunggu sebentar lagi.” Sergahku. Bisa gawat jika kita semua meninggalkan Nisa sendirian.

“Nah itu dia orangnya,” kata Laras tepat saat Nisa berlari kecil menghampiri kami.

“M-maaf semuanya aku terlambat..” ujar Nisa dengan nada bersalah.

“Huh, kita udah kesal menunggumu di sini,” kata Arman menatap Nisa sebal.

“Sudah – sudah.. ayo, mau masuk sekarang?” Tanya Laras.

“Ayo! Kita masuk lewat pagar itu,” Arman menunjuk pagar besi tua berkarat tepat di depan kami.

“Tempat ini sangat menyeramkan,” kata Nisa pelan.

“Tenang Nis, ada kita.” Aku mencoba menenangkan Nisa.

“Benar tuh apa yang Alia bilang,” ujar Irfan menyetujui.

Baru saja saat aku melangkahkan kaki, aku melihat sebuah bayangan hitam melewati sebuah pohon mangga, dengan reflek aku teriak yang membuat semua temanku menengok heran ke arahku.

“Kenapa?” Tanya Laras bingung serta khawatir.

Aku menarik napasku pelan, “aku melihat bayangan lewat di situ.” Aku menunjuk ke arah pohon mangga yang ada di sebelah kanan kami.

“Mana aku gak liat..” ucap Arman

“Tadi bayangan itu lewat dari sebelah kanan.” Jawabku dengan napas tersenggal.

“Baru saja kita lewatin pagarnya, sudah jangan takut. Kita lanjutkan perjalanannya,” ucap Irfan menenangkan.

Kemudian arman membuka pintu rumah tersebut

“Uhuk, uhuk.. di dalam sini berdebu sekali.” Ucap Laras.

“Wajar saja karena sudah lama tak ada orang yang berani memasuki rumah ini.” Kata Irfan.

“Ayo, kita periksa semua ruangan disini.” Arman bersuara saat kami sudah berada di tengah – tengah ruangan.

“Kita mulai dari mana?” Tanya Nisa.

“Kita mulai dari ruangan itu, sepertinya isi dari ruangan itu sangat berharga.” Usul Irfan menunjuk ruangan berpintu cokelat di sebelah kanan kami.

Wuusshh… ada bayangan hitam lewat dari atas tangga.

“A-apa itu yang lewat..?” Tanya Laras ketakutan yang bersembunyi di balik Arman.

Tak lama aku dan teman – temanku masuk ke ruangan yang diusul oleh Irfan. Ternyata ruangan itu adalah ruang makan.

“Lihat lah foto itu, itu pasti foto penghuni sebelumnya.” Kataku menunjuk sebuah foto keluarga berjumlah lima orang di dekat kabinet.

“Ya, mungkin saja..” jawab Nisa.

Tiba – tiba jam berbunyi, kami semua tersontak dan tidak mengeluarkan suara apapun. Aku bersumpah, saat ini aku sangat ketakutan setengah mati.

Kami serentak melihat sosok bayangan hitam, bayangan hitam tersebut terbang menghampiri kami semua. Karena kami semua panik, kami terpisah. Sialnya, hanya aku yang sendirian.

Aku mengedarkan pandanganku yang minim cahaya. “Teman – teman kalian dimana?” Aku menoleh ke segala arah. “Nisa, Irfan, Arman, Laras..” panggilku pada mereka.

Author’s POV

Irfan dan Arman terpencar berdua.

“Irfan kamu gak apa – apa kan?” Tanya Arman pada Irfan yang tengah membungkuk.

“Tenang aja aku gak apa – apa. Aku kan kuat, anak pramuka. Harus berani.” Jawab Irfan menegakkan tubuh dengan pedenya

“Ye, elah. Sok – sok an. Kita harus gimana nih? Mereka kemana, kita harus cari mereka.” Kata Arman.

“Kita coba periksa setiap ruangan disini.” Jawab Arman.

Di sisi lain, Nisa dan Laras berada di ruang tengah. Tepat di dekat pintu awal mereka masuk.

“Laras, kita pulang aja yuk? Mungkin mereka juga sudah pulang.” Kata Nisa dengan perasaan takut dan lelah.

“Kamu benar, disana pintu keluarnya.” Jawab Laras

Tak lama setelah Laras dan Nisa meninggalkan rumah tersebut, tepat di halaman rumah mereka melihat sosok anak kecil yang sedang bermain di halaman

“N-Nis…  i-itu.. anak kecil yang nenek waktu itu katakan.” Lirih Laras sambil menahan napas.

“Kau benar Laras, kita lari saja yuk!” Kata Nisa yang mendapat anggukan setuju dari Laras. Kemudian keduanya berlari menjauh dari rumah tersebut.

Tak sadar ada batu di hadapannya, Nisa tersandung batu membuat dirinya jatuh tersungkur. “Ah!” Teriak Nisa reflek.

“Ayo, Nis aku bantu.” Kata Laras sembari mengulurkan tangannya pada Nisa.

Nisa menerima uluran tangan, “terimakasih.” Ucap Nisa. Dan mereka kembali berlari kecil menuju rumah mereka.

Di sisi lain Alia, Irfan, dan Arman masih berada di dalam rumah.

“Duh disini seram sekali.” Keluh Alia yang terdengar oleh Irfan dan Arman.

“Alia kamu dimana?” Tanya Arman dengan nada lantang.

“Aku disini, aku takut sendirian..” Alia melirih. Ia menggeledarkan pandangan, takut – takut ia diikuti oleh penghuni sini.

Akhirnya mereka bertiga bertemu.

“Alia, kamu gak apa – apa?” Tanya Irfan memandang wajah Alia dengan khawatir.

“A-aku gak apa – apa hanya ketakutan saja,” jawab Alia sambil tersenyum tipis.

“Kamu jangan takut lagi, sekarang ada kita berdua.” Ujar Arman.

“Mending kita keluar aja, yuk, dari rumah ini.” Alia menyarankan. Dengan cepat Arman dan Irfan mengangguk setuju.

“Ayo, kita akan mencari jalan keluarnya.” Kata Arman.

“Man lihat itu, itu kan foto yang ada di ruang makan.” Kata Irfan menunjuk sebuah foto yang berada di ujung lorong antar kamar.

“Ya, benar. Kenapa foto itu ada di sini?” Tanya Arman memandang Alia dan Irfan secara bergantian.

Alia berdeham. “Mungkin saja mereka mencetak fotonya lebih dari satu.” Tukas Alia.

Mereka pun terus mencari pintu keluarnya, dan tak kunjung ditemukan.

Alia memperlambat langkahnya. “Ahh.. aku cape banget, kita istirahat dulu yuk.” Kata Alia sembari mengelap keringatnya dengan ujung bajunya.

“Gimana sih, kita harus terus berjalan supaya menemukan jalan keluarnya.” Ucap Irfan.

“Jangan disamain, dong. Gak usah kayak gitu ke Alia. Dia kan cewek.” Jawab Arman dengan kesalnya.

“Sudah – sudah, aku minta maaf. Aku hanya lelah karena terus – terusan berjalan mencari jalan keluar.” Alia kembali berdiri. “Ayo, cari lagi jalan keluarnya.”

“Kamu benar. Ayo, kita coba ke pintu itu.” Kata Arman. Ketiganya berjalan beriringan menuju pintu yang dituju.

Akhirnya mereka pun keluar dari rumah itu, dan kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan takut dan lega yang bercampur aduk. Alia berjanji untuk tidak masuk lagi ke rumah yang tidak ia ketahui meski ia memiliki rasa penasaran.

(Levado/Rarastyles)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages