Semesta menjadi saksi atas pilu dan sedih yang dirasa buana. Jogjakarta, tanah kelahiran sang gadis muda. Tempatnya mengumandangkan nyanyian penuh sesak didengar lembayung.
Wanodya dirundung maras. Tak seorang pun menatap daksa rapuh bersama sanubari nan kian berserak kemana-mana, berharap gejolak nestapa akan segera hirap ditelan gelap.
Tak pernah sekalipun ia melihat sang adicandra menampakkan diri di hadapannya. Ia hanyalah gadis menyedihkan tanpa setitik harsa. Mungkin itu sebab sang adicandra enggan menampakkan diri, pikirnya.
Namun apapun jadinya, ia tetaplah gadis rapuh nan dipaksa kuat oleh buana. Gadis menyedihkan nan dipaksa mengukir lengkung pada bibir oleh langit.
Betapa menyakitkan rasanya.
Berapa lama ia harus menahan semua?
— shasha


No comments:
Post a Comment