Bandung, KOMA- Konflik antara Israel dan Palestina memang tidak mudah berakhir, dilihat dari banyaknya sumber pertikaian antar keduanya yang sudah terjadi sejak lama dan insiden serupa terulang.
Sejak abad ke-19, Israel dan Palestina memang telah memiliki banyak konflik. Bermula dari tahun 1948 setelah berdirinya Negara Israel, warga Palestina keberatan dan mencegah berdirinya Negara Israel tersebut hingga pada akhirnya memunculkan perang. Setelah berakhirnya perang pun, Israel ternyata sudah menguasai sebagian besar wilayah bekas kekuasaan Inggris termasuk Yerussalem, sedangkan Mesir menguasai Gaza. Sementara itu menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sentengah populasi Arab Palestina telah diusir dan sebagian lagi melarikan diri.
Setelah kejadian itu, konflik kembali memanas pada tahun
1967 dimana Israel kembali merebut jalur Gaza dan kawasan Sinai hingga Tepi
Barat serta Yerussalem Timur dari Yordania yang mana perebutan wilayah tersebut
kembali membuat Israel menyerang Palestina.
Tidak berhenti sampai disitu, banyak kejadian demi
kejadian selanjutnya yang memunculkan penyerangan Israel kepada Palestina serta
memunculkan banyak korban di Palestina.
Akhir-akhir ini pun dunia internasional diramaikan dengan
aksi penyerangan dari Israel kepada Palestina yang tengah menjadi sorotan.
Dilansir dari AP
News, pada 8 Mei 2021, Israel memblokir tempat berkumpul orang-orang
Palestina untuk bersosialisasi saat berbuka puasa. Hal tersebut memunculkan
bentrok selama dua pekan. Dalam beberapa hari terakhir, bentrok kembali terjadi
dimana Israel mengancam akan menggusur puluhan warga Palestina di wilayah
Syeikh Jarrah.
Komplek Masjid Al-Aqsa menjadi titik api konflik antara
Israel dan Palestina. Polisi Israel menembakkan peluru karet dan granat ke arah
pemuda Palestina. Kejadian itu terjadi pada hari Jum’at di Masjid Al-Aqsa
Yerussalem. Atas bentrok itu, seorang pejabat Aqsa meminta agar semua pihak
menenangkan situasi yang disampaikannya melalui pengeras suara masjid.
Karena perkara ini banyak para pendukung negara Israel
maupun Palestina mendesak keduanya untuk menghentikan serangan dan melakukan
gencatan senjata, namun seperti nya hal itu tidak di dengar oleh kedua belah
pihak yang semakin memanas.
Dilansir dari BBC News, pada 15 mei 2021, bahkan
imbauan dari presiden AS saat ini, Joe Biden, dalam mengendalikan situasi itu
tampaknya tidak banyak berpengaruh saat ini.
Hal ini
berpengaruh terhadap kesepakatan antara arab Saudi dengan Israel, yang
ditekan amerika serikat agar segera ikut menormalisasikan hubungan dengan
Israel.
Dilansir dari BBC
News, pada 15 mei 2021, Michael Stephens, peneliti dari royal united services institute yang
berbasis di London, menilai bahwa pandangan negara-negara Arab yang jadi
peserta kesepakatan Abraham bahwa mereka akan memberi pengaruh bagi Israel
dalam membantu perjuangan palestina, telah pupus.
Jadi, bila sebelumnya ada keengganan dari palestina untuk
menerima kenyataan bahwa ada negara-negara Arab yang telah menormalisasi
hubungan dengan Israel untuk kali pertama dalam beberapa puluh tahun terakhir,
maka konflik yang saat ini terjadi justru memperdalam skap skeptis itu.
Dilansir dari Detik News pada Selasa, 18 Mei 2021 serangan Israel terus berlanjut hingga mengakibatkan banyak berjatuhnya korban jiwa. Tercatat sekitar 212 yang menjadi korban serangan ini dan 61 orang diantaranya adalah anak-anak.
Menurut media arab Aljazeera pada tanggal yang sama mengatakan bahwa serangan demi serangan juga masih aktif, hal itu terjadi pasca Perdana Menterio Israel, benjamin Netanyahu, menyatakan serangan terhadap Palestina belum berakhir.”
Dilansir dari Kompas banyak faktor yang melatarbelakangi ketegangan antara Israel dan Palestina, termasuk diantaranya adalah renacana pengusiran puluhan warga Palestina di wilyah Sheikh Jarrah. Situasi ini kian menegangkan setelah Palestina menghujani wilayah Israel dengan rudal yang kemudian Israel membalas serangan tersebut dengan melakukan gencatan senjata disejumlah wilayah.
Banyak media Arab atau mungkin bahkan negara-negara Arab diam atas semua serangan Israel terhadap Palestina, hal ini diakibatkan karena ketergantungan yang besar negara Arab terhadap Amerika Serikat dimana AS adalah negara superpower di dunia.
Selagi Amerika Serikat masih menjadi negara superpower dan negara-negara Islam yang mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap Amerika, maka Israel akan tetap melakukan gencatan dan terror-terrornya kepada warga Palestina. Sebab Isrel merupakan salah satu negara dengan alat militer terbaik di dunia.
Perdamaian antara Israel dan
palestina mungkin akan sulit di dapatkan karena sering terjadinya peperangan
diantara kedua belah pihak mengingat Israel yang begitu gencar menyerang
Palestina dan juga adanya dukungan dari negara-negara kuar di dunia yang masih
lebih banyak pro kepada Israel. Tetapi yang diharapkan saat ini adalah tidak
banyak kembali menelan banyak korban terutama anak-anak.

No comments:
Post a Comment