Orang-orang besar itu, yang punya ribuan kata rayuan manis untuk ibuku.
Aku hanya goresan tinta darah yang bermain peran.
Orang-orang besar itu yang temui kami, mengetuk pintu rumah kami,
Layaknya gagak hitam yang menggunting asa, kau tega menggunting rasa kami.
Perih merintih, letih tak helai di ujung peluh, orang-orang besar itu menikam kami.
Jangan sedih, jangan patah, jangan mati, jangan kau dengar aspirasi kami.
Wahai puan, sudah berapa ribu nyawa melayang? memperkosa sanubari.
Untuk seluruh emosi-emosi itu, mereka dungu, membilu, membiru, pilu, sendu, Asu!
Perihal duka yang tak pantas didapatkan, perihal asa yang dibunuh sebelum mekar.
Tolong..
Untuk rintihan suara kami
Untuk jiwa raga yang kian lindap dan rimpuh

No comments:
Post a Comment