Bangunan Tua Itu
Di malam yang dingin, terlihat seorang gadis tengah berjalan menuju bangunan sekolah tua yang berdiri di tengah hutan yang rimbun. Dengan hanya berbekal sebuah lilin, dia menelusuri gelapnya lorong sekolah berharap menemukan sesuatu yang dicarinya.
Tap tap tap.
Terdengar langkah kakinya yang bergema, bersamaan dengan suara kicauan sang burung kematian. Matanya melirik ke berbagai arah untuk memastikan bahwa dia benar-benar sendiri. Langkahnya pun terhenti di depan tangga dengan ubinnya yang sudah retak juga pegangannya yang terbuat dari kayu yang sudah termakan usia. Secara perlahan dia pun menaiki tangga tersebut. Selesai menaiki tangga, dilihatnya Lorong yang penuh debu bercampur dengan genangan air yang memenuhi hampir seluruh lorong disana.
Kakinya pun kembali melangkah. Namun dengan aura yang terasa lebih dingin ketimbang lantai sebelumnya, dia pun berusaha menghangatkan tubuhnya dengan mendekatkan lilin ke tubuhnya. Setelah menelusuri hingga ke ujung lorong, matanya terpaku ke arah ruangan yang lampunya menyala. Merasa menemukan apa yang di acari, dia pun mulai bergegas ke ruangan tersebut yang bertuliskan ‘Laboratorium’ di depan pintunya.
Ketika gadis itu berdiri di depan pintu tersebut tangannya hendak menggapai gagang pintunya, namun aksinya itu pun terhenti oleh sebuah suara.
Grek grek grek.
‘Apa? Kenapa ada orang lain di ruangan ini? Bukankah harusnya hanya aku sendiri di bangunan ini?’ ucapnya dalam hati.
Detak jantungnya yang awalnya normal kini berdetak sangat cepat, keringat dingin mulai mengucur dari dahinya dan rasa takut mulai menghantuinya. Namun dia tetap memberanikan dirinya untuk melihat ke dalam ruangan itu. Dengan perlahan gagang pintu di putar lalu di dorong dengan hati-hati. Matanya pun mengintip ke dalam untuk melihat siapa yang sedang berada di dalam.
Meow.
Dilihatnya seekor kucing hitam berkalung yang sedang duduk di atas sebuah meja paling belakang di laboratorium itu. Dengan seketika rasa lega pun menghapus ketakutan yang dia rasakan tadi. Dia pun mulai masuk lalu menggendong kucing itu sambil berkata.
“Disini rupanya kamu. Ibu dan ayah sangat khawatir tahu. Dasar kucing nakal, hihi..”, lalu di balas dengan jilatan kecil oleh makhluk berbulu itu. Ketika tubuhnya hendak berbalik ke arah pintu, tubuhnya terhenti akibat kucingnya yang mulai mengeong dengan keras seakan dia melihat seseorang yang dia kenal, atau mungkin ‘sesuatu’ yang dia kenal. Tiba-tiba, dibahunya terasa berat seperti seseorang menaruh tangan di pundaknya. Matanya mulai melirik ke arah bahunya dan dia dibuat terkejut dengan jari jemari yang kurus dengan kuku hitamnya yang panjang.
“akhirnya, makanan pun datang dengan sendirinya, khekhekhe..”
No comments:
Post a Comment