When
The Light Switch.
Part I
Bandung, KOMA – Hai, perkenalkan namaku Alexa, aku ingin menceritakan cerita yang membuatku sangat takut untuk mematikan lampu ketika sedang tidur maupun sedang berkegiatan. Cerita ini sungguh membuat kehidupan yang ku jalani sangat berbeda.
Malam itu aku dan pacarku Johnny sedang menginap di rumahku. Ya, kebetulan keluargaku sedang keluar kota, kami melakukan kegiatan seperti pasangan pada umumnya. Memasak bersama, pergi bersama, sampai kita memutuskan untuk menonton film. Walaupun aku penakut aku sangat menyukai film horror dan Johnny juga menyukainya. Kita bisa dikenal sebagai pasangan yang tergila-gila dengan sebuah film horror. Akhirnya kami pun mencari film horror yang menarik dan kami pun memutuskan untuk menonton Lights Out. Film yang membuat kami sangat trauma akan kegelapan.
Aku dan Johnny menyiapkan popcorn, cemilan dan minuman. Kamipun memulai filmnya, ya selama kami menonton tidak ada kejadian aneh-aneh bahkan kami sempat bercanda. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam sudah waktunya kami tidur. Aku membersihkan kasur dan Johnny menyuci piring kotor. Aku mematikan lampu dan tiba-tiba ada seseorang padahal aku yakin tadi tidak ada orang, aku dengan panik langsung menyalakan lampu “oh my god babe, I almost got heart attack. Jangan gitu lagi ah mana filmnya tadi serem banget lagi” ucapku sambil memukul pelan lengan Johnny. “ahahha sorry sayang but you looks so cute when you got scared like that.” Balas Johnny sambil terkekeh. Kami mematikan lampu dan bersiap untuk tidur.
Jam menunjukkan pukul 1 malam aku kebangun dan haus, aku memutuskan untuk mengambil minum ke dapur. Saat di lorong menuju ruang tamu aku melihat seseorang berdiri, aku langsung menyalakan lampu dan tidak ada apa-apa aku hanya menghela nafas “mungkin hanya perasaanku” dalam hati. Aku mematikan lampu dan kembali ke kamar. Saat ingin tidur tiba-tiba aku mendengar barang jatuh dari gudang, aku yang mendengar itu tiba-tiba merinding dan memutuskan untuk membangunkan Johnny. “sayang bangun, aku tiba-tiba denger sesuatu dari gudang” sambil mengguncangkan pundaknya cukup kencang. Johnny pun terbangun “kenapa?” belum sempat menjawab aku dan Johnny kaget tiba-tiba ada yang menggedor-gedor tembok rumah. Aku dan Johnny hanya bisa saling bertatapan.
Kami memutuskan untuk keluar kamar dan mengecek keluar dan hasilnya nihil. Aku akhirnya mematikan lampu kembali tetapi sesaat aku mematikan lampu aku melihat sesosok yang ingin menyerang Johnny dari belakang dan otomatis aku langsung menyalakan lampu. Tidak ada siapapun, aku panik “hey, are you okay?” tanya Johnny yang menyadari aku sangat ketakutan. “I- I just saw someone behind you” Johnny yang mendengar itu hanya tersenyum sambil berusaha menenangkanku. “can I keep turn on the light? I don’t know but I have a bad feeling.” Tanyaku. Johnny menjawab “terserah kamu.” Akupun membiarkan lampu lorong itu menyala dan tiba-tiba ada bunyi ‘click’ lampu mati sendiri. Aku dan Johnny terdiam, “babe.. did you just-“ belum selesai bertanya “that wasn’t me.” Johnny menjawab dengan muka panik. Akupun menengok kebelakang dan tiba-tiba ada sesosok laki-laki dengan jubah hitam dan siap menerkam Johnny dengan pisau di tangannya aku yang melihat itu langsung reflek menyalakan senter HPku. Ternyata itu adalah Xander, saudara lelaki ku dan diikuti perempuan di belakangnya Angel, pacar Xander. “ASTAGA XANDER I THOUGHT U ARE ONE OF MURDERER” teriak ku sambil panik namun di sisi lain merasa lega. Xander, Johnny dan Angel hanya bisa tertawa. “It’s not funny!!” ucapku. “maafkan kami ya, it’s Johnny idea not ours. Aku sama Xander cuman mau ikutan because today is you and Johnny anniversary right?” ucap Angel sambil memberikan selamat. Aku langsung menatap Johnny dengan kesal, “maaf-maaf hehehe, aku cuman berusaha bikin anniversary kita mengesankan.” Kita pun menyalakan lampu dan mengobrol di ruang tamu sekalian merayakan anniversary aku dan Johnny yang ke 3 tahun. Jam sudah menunjukkan pukul 3 malam kami masih asik mengobrol di ruang tamu sampai tiba-tiba.. mati lampu dan ada yang menggedor-gedor diikuti dengan teriakan “HELPP MEEE, PLEASE HELP ME” aku dan yang lain hanya bisa saling menatap. Johnny memutuskan untuk membukakan pintu dan saat dibuka....
To be continued……
No comments:
Post a Comment