Jenuh
Sabtu sore yang cerah ini aku sedang menikmati kue mangkuk cokelat ditemani dengan Kak Jonathan atau bisa disingkat Kak Jo −pacarku.
Hari ini tepat dua tahun kami berpacaran. Tapi entah kenapa dia tidak memakan makanan yang ada di depannya dan… dia terlihat sangat gusar.
“Bagaimana jika salah satu di antara kita nanti ada yang jenuh?” tanyanya tiba-tiba yang membuatku berhenti memakan kue mangkuk yang ada di tanganku.
Aku tersenyum, “Maksudnya Kak Jo jenuh sama aku?” tanyaku sambal menatap matanya itu dengan perasaan yang sudah campur aduk.
“Hanya pengandaian aja. Seandainya aku jenuh, hubungan kita selanjutnya gimana?” tanyanya lagi tanpa ekspresi di wajah tampan bak pangeran itu.
Aku bergumam sebentar tanda berpikir, “Seandainya Kak Jo jenuh, aku marah. Marah banget.”
Dahinya berkerut bertanya-tanya seperti ada yang salah dengan perkataan yang telah kulontarkan, “Kenapa kamu marah? Bukannya jenuh itu hal yang wajar dalam menjalani sebuah hubungan? Kalau aku jenuh, itu berarti salahku?”
Aku tersenyum getir, “Kak Jo, jenuh itu memang wajar. Tapi kalau Kak Jo jenuh sama hubungan ini berarti kamu yang salah, salah besar.”
“Kenapa aku yang salah?” ia semakin bingung.
“Karena kamu berpikir kalau lagi jenuh. Jenuh itu sebuah pemikiran yang timbul karena menginginkan sesuatu yang baru. Berarti Kak Jo mau sesuatu yang baru, atau mungkin Kak Jo mau orang baru di kehidupan Kak Jo.”
Dia terdiam sebentar dengan raut wajah yang masih kebingungan, “Maksudnya?”
“Ya jadi Kak Jo hanya mengalihkan topik pembicaraan. Jenuh hanya timbul karena perubahan, atau kasarnya Kak Jo jenuh karena kamu nggak pernah puas dengan kehadiranku dan mau aku berubah jadi sesuatu yang baru, yang nggak sama seperti yang Kak Jo lihat sehari-hari.”
Dia hanya bergumam sambil menatap secangkir americano miliknya yang ada di atas meja bundar berwarna putih itu.
Aku masih tersenyum, “Kenapa? Kak Jo mikir kalau aku bener?”
Dia tidak menjawab.
Aku terkekeh sebentar, “Aku tahu setiap orang bisa jenuh kalau melakukan hal yang sama secara berulang-ulang, contohnya nonton bareng orang yang sama terus-menerus setiap hari.”
“Aku boleh tanya?” lanjutku karena masih tidak ada jawaban darinya sambil merapikan piring kecil yang menjadi wadah kue mangkuk cokelatku tadi.
Kepalanya mendongak menatap langsung iris hitamku, “Apa?”
“Pengandaian jenuh yang Kak Jo rasain sudah seberapa besar?”
Dia terlihat berpikir sebentar, “Sudah lumayan besar, sekitar 70% atau lebih.”
“Kalau Kak Jo sudah merasa jenuh banget, hanya ada dua pilihan.”
“Pilihan?”
“Pertama, kalau Kak Jo jenuh dalam hubungan mungkin Kak Jo jenuh sama rutinitasnya. Kak Jo perlu coba hal baru, atau mungkin istirahat sebentar dan jangan melakukan rutinitas itu. Bener-bener jangan.”
“Kalau sudah pernah aku coba tapi gagal?”
“Berarti Kak Jo harus coba pilihan kedua, ganti subjek yang bikin Kak Jo jenuh. Kalau pengandaian jenuh Kak Jo sama aku, cari orang lain yang kira-kira bikin Kak Jo gak jenuh, yang beda dari aku.”
Iris teduh itu membulat, “Nggak begitu maksudnya, ini hanya pengandaian.”
Aku terkekeh lagi, “Aku juga hanya mengandaikan. Tapi, jika Kak Jo milih pilihan yang kedua, aku nggak bakal jamin di waktu ke depan Kak Jo nggak bakal jenuh sama orang baru yang yang gantiin aku karena Kak Jo jenuh dan juga lama-kelamaan Kak Jo juga jenuh sama dia, hanya tergantung waktu dan sikap Kak Jo yang menghadapinya.”
“Oke, stop bahas pengandaian. Kita bahas yang lain aja ya.”
“Nggak, ayo terusin. Ini berguna sebagai dasar dalam hubungan. Boleh aku tanya, kenapa Kak Jo nggak jenuh tidur setiap hari? Makan setiap hari? Atau mandi setiap hari? Itu rutinitas sama yang Kak Jo lakuin, kan?”
Dia menautkan alisnya, “Karena itu kebutuhanku, aku perlu tidur biar nggak capek, makan biar nggak laper dan mandi biar nggak bikin kamu pingsan,” ucapnya dengan kekehan di akhir.
“Oke, satu lagi... kenapa Kak Jo nggak pernah jenuh manggung bareng temen Kak Jo setiap minggu?”
“Karena itu hobiku, that’s fun.”
“Nah, Kak Jo sudah jawab sendiri. Kak Jo nggak jenuh saat makan, tidur, atau mandi karena Kak Jo butuh itu. Rasa jenuh di pikiran Kak Jo kalah dengan rasa lelah dan laper. Juga rutinitas manggung karena Kak Jo suka itu. Rasa senang nggak bikin seseorang jenuh. Jenuh itu pemikiran Kak Jo sendiri dan jenuh itu terkalahkan.”
“Terus apa yang bakal kamu lakuin?”
Aku menghela napas kecil dan berusaha tetap tersenyum, “Mengulang dari awal perasaan yang timbul saat Kak Jo bikin aku senang. Mikirin rasa nyaman yang terbentuk seiring kita memutuskan mengenal satu sama lain. Itu cukup ngalihin rasa jenuh buatku, nggak tahu buat Kak Jo.”
Dia terdiam.
“Kenapa diam? Gimana, sudah ngerti? Jenuh Kak Jo masih ada di level tinggi? Kalau iya, apa pilihan kamu? Kak Jo bakal ganti rutinitas sama aku? Atau ganti aku di dalam rutinitas kamu?”
Dia menghela napas panjang lalu mengusap wajahnya kasar, “Maaf.”
Aku sudah bisa menduga perkataan selanjutnya yang akan keluar dari bibir itu.
“I don’t love you anymore,” sambungnya.
Aku tersenyum simpul dengan hatiku yang bergejolak ingin berteriak, “Kak Jo, I hope you’ll find a better person.”
Aku merogoh tasku, “Oh ya, selamat dua tahun hari jadi kita! Hari terakhir, mungkin?” aku terkekeh.
Iris teduh itu membulat lagi untuk ke sekian kalinya.
“Kak Jo pasti lupa, ya?” tanyaku sambil menaruh kotak hadiah kecil itu di atas meja bundar berwarna putih tepat di samping cangkir americano-nya itu.
“Semoga orang baru yang bakal gantiin aku nanti nggak akan merasakan kayak gini ya. Aku duluan, makasih banyak buat hari ini Kak Jo,” ucapku sambil berjalan keluar dari kafe itu.
Setelah dua tahun bertahan, akhirnya rumah itu hancur menjadi keping-kepingan usang yang tidak bisa dibentuk lagi.
~END~
Dibuat oleh: chocomocca
No comments:
Post a Comment