Piano Temanku - KOMA's Official Website

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Piano Temanku

Share This
Piano Temanku

Gedung sekolah yang baru ini aku masuki. Siap menempuh tiga tahun masa SMA. Setelah berkeliling gedung sekolah yang luas, aku terkejut saat masuk ke ruangan musik. Mataku terpaku ke arah piano. 

Beberapa saat aku melihat benda itu. Aku terpaku diam, tubuhku seperti kaku tak bisa digerakkan. 

Memori itu terlintas lagi. Memori yang aku ingin hilangkan sebenarnya. Tetapi kala mataku mendapati benda di tengah ruangan itu membuatku teringat masa lalu lagi. 

Lamunanku seketika buyar saat seorang ketua ospek memanggilku karena aku terus berdiam diri di depan pintu ruang musik. 

Saat melewati majalah dinding di sekolah, aku melihat hal yang berhubungan lagi dengan piano. Kufokuskan perhatianku ke selembaran bergaya klasik dengn isi yang entah kenapa membuatku tertarik. Padahal semua hal yang berhubungan dengan piano seharusnya aku tidak suka. 

Aku bergelut dengan pikiranku sendiri selama beberapa hari. Berpikir memutuskan untuk mengikuti selembaran di mading itu atau tidak. Aku hanya takut satu hal jika aku mengikuti itu. 

Setelah pikiranku mulai tenang dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti apa yang tertulis di selembaran mading, aku mulai datang ke ruangan musik. 

Lagi, badanku mengejang melihat piao itu. Namun, ada satu hal yang mendorong hatiku untuk segera menekankan tuts piano berwarna putih dan hitam tersebut. 

Kudekati benda itu. Kuraba bahan mahal berwarna hitam mengkilapnya. Mataku berbinar namun ada juga sekelebat memori buruk. Aku enyahkan itu sejauh mungkin. 

Kursi piano itu aku pandangi. Haruskah aku duduk dan mulai bermain? Jawabannya iya, aku langsung memposisikan tubuhku di sana. 

Mulai dari lagu pertama. Lagu yang sangat mudah dan simpel. Aku bisa memainkannya sampai beres. 

Perlahan hasrat bermain piano itu muncul lagi. Aku jadi kecanduan bermain dan mencoba dan mencoba lagi hingga aku tak menyadari derit waktu yang terus bergulir. 

Aku tersenyum lebar karena bangga bisa selesai bermain piano setelah lama menjaga jarak dengan benda ini. Tanganku diturunkan lalu memori itu muncul lagi. Sekuat tenaga aku hilangkan namun bagaimanapun ilusi itu terus terbayang di otak. 

Secepat kilat aku menjauh lagi dari piano. Keluar dari ruangan itu. Berlari tanpa arah. Sungguh, sepertinya aku tak bisa melakukan ini. 

Hampir satu minggu aku absen memasuki ruangan itu. Jauh dalam hatiku, aku ingin sekali bermain lagi. Namun, aku sangat takut jika trauma seperti minggu lalu muncul lagi. 

Aku memberanikan diriku lagi. Bermain lagu yang sama seperti minggu lalu. Hingga satu jam aku bermain dengan lagu-lagi yang belum pernah aku mainkan sebelumnya. 

Aku mengembuskan napasku dengan tenang. Itu tidak terjadi lagi. Pengalaman menyakitkan itu tak terlintas lagi. Akhirnya aku bermain dengan tenang tanpa gangguan apapun. 

"Halo, nama kamu ... Tya ya?"

Aku menoleh padanya dan hanya mengangguk. Tanganku masih sibuk menekan tuts-tuts piano dan menghasilkan alunan musik yang cantik. 

"Aku teman sekelas kamu, Nadia. Ngomong-ngomong kamu kenapa di sini? Ke kantin yuk!"

"Maaf, tapi aku mau main di sini aja. Makasih Nadia."

"Oh ayolah. Sudah dua minggu aku lihat kamu di sini terus. Ayo makan bareng." ujar Nadia bersikeras. 

"Tidak terima kasih, Nadia. Lain kali saja."

"Ya sudah. Aku pergi ya."

Sejauh ini hanya dia yang menyapaku. Selama aku bersekolah di sini aku susah bersosialisasi. Karakterku agak berubah semenjak kejadian memilukan satu tahun silam, yang tentu ada hubungannya dengan piano ini. 

Tetapi aku mau memprioritaskan bermain piano. Kesempatan saja soalnya aku sudah tak takut dekat piano serta aku memang harus rajin berlatih bermain. 

Selain Nadia, kali ini terlihat ibu guru yang memasuki ruangan. Dari usianya, beliau tampak masih muda. Kebanyakan guru baru itu mengasyikan dan disukai banyak siswa. 

"Selamat siang bu." sapaku. 

"Siang. Tya ya? Ibu lihat kamu sering main piano."

"Benar bu."

"Saking seringnya ibu tampak tidak melihatmu bergaul. Apa ada masalah nak?"

Mulutku bungkam. Tidak tahu harus menjawab apa. Bingung menanggapi pertanyaan guruku ini. 

"Tya? Benarkah ada masalah? Kamu bisa cerita ke ibu."

"Tidak bu. Tidak ada. Aku cuma suka banget main piano. Ini hobiku."

Ibu guru tampak tak puas dengan jawabanku. Maka dari itu ia melayangkan pertanyaan lagi yang lebih sensitif. 

"Apa alasanmu? Apa kau pernah dibully makanya tak mau berteman?"

"Jauh dari alasan seperti itu. Aku mau sekali punya teman. Tapi piano adalah passionku. Ini jalanku untuk mengikuti lomba-lomba." 

Benar sekali. Di majalah dinding itu adalah lomba piano. Di awal aku ingin sekali mengikutinya tetapi di lain sisi, aku masih punya trauma yang mendalam terkait alat musik ini. 

Tetapi seiring berjalannya waktu aku mulai terbiasa dan mulai tak mengingat-ingat kejadian itu lagi. 

Aku pun mulai bercerita yang menjadi alasanku selalu mendekam di ruang musik ini sendirian kepada bu guru. 

"Dulu aku pernah dibelikan piano oleh bunda. Saat aku memainkannya dengan melodi yang masih jelek, ayahku mengamuk. Dia tak suka permainanku. Satu bulan aku belajar dan hasilnya masih sama. Ayahku menghancurkan piano di hadapanku. Sejak saat itu aku tak bermain piano lagi. Terlalu seram jika aku ingat terus. Ayahku seperti monster. Tapi sejak masuk sekolah di sini dan melihat piano aku jadi tertarik. Belakangan aku menemukan lomba piano dan aku mau mengikutinya. Aku mau memberitahu ayahku bahwa aku berbakat di sini."

Melihat bu guru terdiam, aku melanjutkan kalimatku dan membuat beliau tampak tenang dan tak sekaku tadi. 

"Ibu tenang saja. Aku janji akan mulai bergaul setelah mengikuti lomba dan menang."

"Tentu. Jadwal pulang sekolah ini ibu akan menemanimu agar tak kesepian."

"Tak usah repot-repot."

"Tidak apa. Aku sangat suka permainan pianomu." ujar bu guru muda nan cantik itu. 

Aku pun menyetujuinya. Sepertinya jika aku mulai bercerita tentang masalahku terutama orang yang mengerti aku, mereka akan mendukungku. Selain itu juga ini menjadikanku lebih kuat dan lebih fokus ke apa yang aku usahakan.

Penulis: Anesya Salsabila

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages