Bandung, KOMA- Malam itu, di luar sedang hujan deras. Jam menunjuk ke angka 2 malam saat aku tiba-tiba membuka mataku. Aneh, aku bahkan tidak ingat mimpi apa yang kulihat barusan. Tubuhku juga tak bisa bergerak, tak bisa bicara atau membuka mulut, hanya mampu mengedipkan mata, memandang ke arah pigura besar yang terpajang di dinding kamar.
Pigura itu berisi foto kakekku saat beliau masih muda. Rambutnya kala itu masih panjang dan seringkali diurai, sehingga selalu membuatku bergidik tiap kali memandang pigura besar dengan aura mistis itu. Ditambah lagi, ekspresi kakekku dalam foto itu benar-benar datar, sorot matanya kosong bak kehilangan jiwanya.
Aku mengedipkan mata berkali-kali, sembari mencoba untuk menggerakkan tubuhku. Tapi tetap saja nihil. Aku hanya bisa terpaku saat sebuah asap hitam mengepul keluar dari pigura besar tadi. Sedikit demi sedikit, asap hitam tersebut berubah menjadi sesosok mengerikan.
Seorang wanita tua bermata merah dan berkulit hitam legam merayap dengan cepat seperti laba-laba, sebelum tiba-tiba ia menatap ke arahku.
"Astagfirullah." kataku dalam hati, mencoba memejamkan mata untuk mengusir sosok itu dari ingatanku.
Pelan-pelan, aku membuka mata. Sosok hitam tadi sudah lenyap dari dinding kamarku. Ah, syukurlah. Kukira ia memang sudah menghilang, tapi rupanya tidak. Entah sejak kapan, sosok itu ada di ujung kakiku. Lantas tertawa nyaring, membuatku benar-benar merinding. Ingin sekali aku berteriak, tapi suaraku tertahan dalam tenggorokan.
"Kamu tidak sendiri." kata sosok itu sembari merayap perlahan menuju wajahku. Semakin aku lihat, semakin kencang pula dadaku berdebar ketakutan.
Mata merah milik sosok itu benar-benar besar, lebih besar dari bola tenis. Tangan hitamnya mencengkram leherku erat, tapi anehnya aku tak merasa kesakitan. Hanya saja, jantungku terasa mau copot saat sosok itu mendekatkan wajahnya tepat di depan mataku.
"Aku selalu mengikutimu. " katanya tepat di telingaku.
Aku memejamkan
mata sambil membaca ayat-ayat suci dalam hati.
Setelah itu, aku tak terlalu ingat apa yang selanjutnya terjadi. Namun saat aku bangun di pagi hari, aku tak lagi melihat pigura besar itu ada di kamarku. Rupanya, ibuku sudah membakar pigura itu saat aku masih tidur. Ketika aku tanya alasannya, ibuku hanya menjawab.
"Tadi malam, anak buah kakekmu mendatangi ibu. Untuk meminta tumbal."

No comments:
Post a Comment