Jeritan Sang Peniru
Tulisan ini
merupakan kisah nyata pengalamanku sebagai seorang mahasiswi dari salah satu
perguruan tinggi swasta yang mengalami satu kejadian yang tidak pernah
kubayangkan sebelumnya. 22 September 2019 lalu merupakan hari yang telah menjadi
saksi bisu kejadian di sore kala itu. Di mana acara besar diselenggarakan, dan
terjadinya peristiwa mencekam yang tidak bisa terelakkan.
Hari dimana festival budaya salah satu negara asing diadakan telah menciptakan banyak pengalaman baru bagi setiap mahasiswa dan para pengunjung. Saat itu, acara Rumah Hantu banyak menarik minat mereka yang ingin menguji seberapa besar keberaniannya.
Rasa takut, cemas, serta kegelisahan menyelimuti benak mereka kala memasuki rumah hantu itu. Tetapi, mereka mencoba abai terhadap apa yang mereka rasakan demi melanjutkan perjalanan yang dapat memuaskan rasa penasaran yang ada dalam dirinya. Memang hanya sebuah tipuan. Namun, siapa yang dapat menahan pemilik wujud sesungguhnya untuk datang dan ikut mengisi keheningan kala itu?.
Hari mulai gelap, sang mentari berganti tugasnya dengan sang rembulan. Empat ruangan di lantai lima kampusku pun semakin kehilangan cahayanya. Nuansa rumah hantu yang sedang berlangsung semakin menusuk raga, jeritan-jeritan semakin terdengar jelas di telinga, membuat semangat kami sebagai para penjaga semakin bergelora, karena aura kami yang kian kuat untuk memberi rasa takut pada setiap jiwa. Saat itu, aku belum tahu bahwa bukan hanya kami yang berjaga, namun juga mereka. Para pemilik wujud yang telah kami tiru.
Di saat para pengunjung menjerit ketakutan, kami para petugas menjerit kegirangan, merasa bahwa tugas kami berhasil dijalankan. Lantai 5 ruangan 502, merupakan tempatku bertugas saat itu. Ruangan semakin gelap, sampai mata ini tak bisa memandang apapun lir sedang tidur. Tetapi, kami tetap saling memberi tanda kepada sesama rekan yang ditempatkan dalam ruangan yang sama. Kode yang telah kami putuskan berupa jeritan. Jika mereka menjawab jeritanku, itu berarti mereka baik-baik saja, begitupun sebaliknya.
Hari benar-benar semakin gelap cahaya sang rembulan bahkan tak berhasil menembus ke dalam ruangan itu. Jantungku mulai berdebar kencang, sekujur tubuhku mulai lemas, namun tugasku belum berakhir. Untuk menghilangkan rasa takut, kukeluarkan jeritan itu, namun salah satu temanku tidak menjawabnya. Sempat timbul rasa khawatir menyelimuti benakku, namun para pengunjung berdatangan sampai tak ada waktu bagiku untuk melihat kondisi rekanku itu.
Tubuhku benar-benar tenggelam dalam rasa lelah, kuputuskan untuk duduk sejenak. Tidak lama dari itu, suara jeritan di selingi tangisan terdengar, dan itu adalah suara salah satu rekanku yang sempat kukhawatirkan. Segera kucari posisinya di ruang itu dengan indra peraba yang menjadi penolongku dalam kegelapan. Kuberjalan mengitari ruangan untuk mencarinya, dan suara tangisan semakin menusuk telingaku. Rasa khawatir dan takut bercampur dalam benakku. Namun, ku tetap berusaha mencari asal suara itu.
Akhirnya asal suara itu kutemukan, ternyata benar itu berasal dari salah satu rekanku di ruangan itu. Raga ingin memeluk untuk menenangkannya, namun hati tidak dapat berbohong karena terselimuti rasa takut yang semakin kuat melekat. Pada saat itu, ia menyerupai makhluk yang sudah tidak asing lagi di telingaku,“wanita berambut panjang yang mengenakan baju putih” . Meskipun kutahu bahwa Ia rekanku, tetap saja rasa takut ini tidak dapat ku singkirkan karena ia benar-benar menyerupai wanita yang sedang kupikirkan dalam bentuk yang sebenarnya.
Tangisnya sungguh meragukan bahwa Ia adalah rekanku. Ia menjerit dan semakin kencang menangis. Di sisi lain aku memang takut, namun kupaksakan kedua tangan yang bergetar dan dingin ini untuk memeluknya sembari merapikan rambut kusut yang telah menghiasi pipinya. Perlahan Ia menatapku dengan pandangan kosong. Tetapi, tatapan bola mata yang terpenuhi air mata itu sungguh menakutkan. Untuk sekejap acara itu dihentikan karena situasi yang kian memburuk. Rekanku diberhentikan dari tugasnya meskipun Ia bersikeras tetap ingin meneruskan. Nyatanya, raga tidak pernah bisa berbohong dan menunjukkan bahwa ia memang sudah tidak sanggup lagi.
Pada akhirnya,
acara tetap dilanjutkan. Acara yang kian terasa aura mencekamnya. Jeritan para
pengunjung semakin keras, mungkin karena aura dalam kegelapan yang juga ikut
menyertai peran kami. Ya, kami. Para peniru dan yang ditiru.


No comments:
Post a Comment