Bandung,
KOMA- Anda pernah
disebut ‘cantik’ atau ‘seksi’ dan sejenisnya ketika tengah melintas di jalan
umum? Jika ya, maka Anda telah mengalami pelecehan seksual berbentuk catcalling.
Catcalling adalah komentar bernada seksual yang dilontarkan oleh laki-laki ke
wanita di tempat umum, misalnya jalan raya, pusat perbelanjaan, stasiun, dan
lain-lain. Bedanya dengan pelecehan seksual pada umumnya adalah laki-laki dan
wanita tidak saling kenal sehingga kerap juga disebut pelecehan asing. Tujuan catcalling bukanlah ingin melakukan pemerkosaan,
namun lebih kepada mencari perhatian dari sang wanita. Tidak sedikit wanita
yang marah ketika menjadi korban catcalling.
Namun, banyak juga pria pelaku catcalling
yang berdalih bahwa tindakan mereka itu lucu, menggemaskan, dan bertujuan
untuk memuji penampilan fisik si wanita.
Padahal, catcalling justru merupakan perbuatan tidak terpuji, menjijikan,
dan menghina wanita. Catcalling
menjadikan wanita sebagai objek seksual dan terlihat tidak lebih dari seonggok
daging yang sedang berjalan tanpa memandang kesetaraan gender.
Fenomena catcalling juga sering dihubungkan dengan gaya berpakaian si wanita
yang terbilang terbuka sehingga menantang laki-laki untuk mengomentarinya.
Padahal, ada jurnal yang menyebut negara-negara dengan wanita berpakaian tertutup
(bahkan menggunakan cadar), seperti Mesir dan Lebanon, juga tidak terhindar
dari catcalling.
Dengan kata lain, hubungan antara catcalling dengan stereotype cara berpakaian wanita hanya mengada-ada untuk dijadikan
pembenaran otak kotor dalam diri pelaku catcalling
tersebut. Apa pun bentuknya, catcalling
harus dihentikan karena dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan mental para
wanita yang mengalaminya. intinya kita sebagai wanita jangan lemah terhadap
kasus tersebut. beranikan diri untuk lawan jika anda mengalami pelecehan
tersebut. Karena kalau tidak, akan mempengaruhi kesehatan psikologis kita. Hati
hati dan tetaplah berwaspada! (RAHMA/
HANI)

No comments:
Post a Comment